Minggu, 21 Desember 2014


ALASAN KITA MENGIDAM MAKANAN TERTENTU

Tubuh Anda adalah rumah bagi sekitar 100 triliun bakteri , yang secara kolektif dikenal sebagai mikrobioma. Apa saja dampak keberadaan mereka bagi kita? Studi terbaru dalam jurnal BioEssays mengungkapnya.
Menurut studi yang dilakukan oleh Carlo C. Maley , pakar biologi evolusi dari University of California , San Francisco , bakteri-bakteri di tubuh kita bisa turut memengaruhi perilaku kita , terutama dalam hal makan.
Kebiasaan makan kita menciptakan motif kuat bagi bakteri-bakteri di tubuh untuk memanipulasi kita , jelas Maley. Bagi para bakteri ini , apa yang kita makan adalah persoalan hidup dan mati.
Berbagai spesies bakteri yang berbeda bisa tumbuh dan berkembang berkat jenis makanan yang berbeda yang kita santap. Jika bakteri bisa membujuk kita menyantap lebih banyak makanan tempat mereka bergantung , mereka bisa berkembang biak. Karena itu , manipulasi bakteri ini bisa menjelaskan mengapa kita mengidam makanan tertentu.
Sebelumnya , para ilmuwan mencoba menjelaskan fenomena mengidam makanan sebagai cara tubuh untuk membangun pasokan nutrisi setelah kekurangan makanan tertentu. Namun , penjelasan ini kurang tepat.
Contohnya? Banyak orang mengidam cokelat , padahal cokelat bukan nutrisi penting. Cokelat juga tidak mendorong Anda meningkatkan jumlahnya untuk mendapatkan kepuasan. Mungkin , saran Maley , yang sebenarnya terjadi adalah beberapa jenis bakteri tertentu yang berkembang dari cokelat membujuk kita untuk menyantapnya.\
John F. Cryan , pakar ilmu saraf dari University College Cork di Irlandia yang tidak terlibat studi ini , menyarankan bahwa bakteri mungkin juga bisa memanipulasi kita dengan cara yang menguntungkan kita maupun mereka.
Hal serupa ditegaskan oleh Rob Knight , pakar mikrobiologi dari University of Colorado. Menurutnya , jika benar bakteri memanipulasi kita , maka kita juga bisa memanipulasi mereka. Misalnya , dengan menyantap yogurt yang mengandung bakteri yang akan membuat kita mengidam makanan sehat.

Sumber : Carlo C. Maley (pakar biologi evolusi dari University of California , San Francisco) , John F. Cryan (pakar ilmu saraf dari University of College Cork , Irlandia) , dan Rob Knight (pakar mikrobiologi dari University of Colorado)

9 komentar: